amtsal al-quran
Amtsalul
Quran
2.1 Pengertian
Secara bahasa kata amtsal
adalah bentuk jamak dari matsal, mitslu dan matsil.
Kata ini memiliki makna yang sama dengan kata syabah, syibh
dan syabih. Pengertian amtsal secara bahasa ini ada tiga macam,
yaitu :
- Perumpamaan, gambaran atau perserupaan
- Cerita atau kisah, jika keadaannya sangat menakjubkan
- Sifat, keadaan atau tingkah laku.
Sedangkan menurut istilah ada
beberapa pengertian yang dikemukakan oleh para ulama. Apa saja itu? yaitu:
- Menurut ulama ahli ilmu adab:
وَالْمِثْلُ فِي الْأَدَبِ قَوْلٌ مُحْكِيٌّ سَائِرٌ يُقْصَدُ
بِهِ تَشْبِيْهُ حَالِ الَّذِي حُكِىَ فِيْهِ بِحَالِ الَّذِي قِيْلَ لِأَجْلِهِ.
Mitslu dalam ilmu adab adalah ucapan
yang disebutkan untuk menggambarkan ungkapan lain yang dimaksudkan untuk menyamakan
atau menyerupakan keadaan sesuatu yang diceritakan dengan keadaan sesuatu yang
dituju.
Maksudnya adalah menyerupakan hal
yang disebutkan dengan asal ceritanya. Jadi Amtsal/mitslu menurut pengertian ini harus ada asal ceritanya loh.
Contohnya yaitu pada ucapan orang Arab: رُبَّ رَمِيَّةٍ مِنْ غَيْرِ رَامٍ (betapa banyak
lemparan panah yang mengena tanpa sengaja) artinya yaitu betapa banyak lemparan
panah yang mengenai sasaran yang dilakukan oleh seorang pelempar yang biasanya
tidak tepat lemparannya. Orang pertama yang mengucapkan amtsal ini adalah
al-Hakam bin Yagus an-Nagri. Beliau berkata kepada orang yang biasanya berbuat
salah tapi kadang-kadang berbuat benar.
- Menurut ulama ahli ilmu bayan:
الْمَجَازُ الْمُرَكَّبُ الَّذِي تَكُوْنُ عَلَاقَتُهُ الْمُشَابِهَةُ
مَتَى فَشَا إِسْتِعْمَالُهُ
Yaitu majas/kiasan yang majemuk yang
keterkaitan antara yang disamakan dengan asalnya adalah penyerupaan.
Bentuk amtsal menurut
pengertian ini adalah bentuk isti’aarah tamtsiiliyyah, yakni
kiasan yang menyerupakan. Seperti:
وَمَا الْمَالُ وَالْأَهْلُوْنَ إِلِّا وَدَائِعُ ◊ وَلَا بُدَّ
يَوْمًا أَنْ تُرَدَّ الْوَدَائِعُ
Tiadalah harta dan keluarga
melainkan bagaikan titipan, pada suatu hari titipan itu pasti akan
dikembalikan.
Dalam syair tersebut, tampak jelas penyair
menyerupakan harta dan keluarga dengan benda titipan yang dititipkan oleh
seseorang kepada kita, yang sama-sama bisa diambil sewaktu-waktu oleh orang
yang menitipkannya. Allah-lah pemilik segala yang ada di alam semesta ini.
- Menurut sebagian ulama:
إِنَّهُ إِبْرَازُ الْمَعْنَى فِي صُوْرَةٍ حِسِّيَةٍ
تَكْسِبُهُ رَوْعَةً وَ جَمَالًا
Mengungkapkan suatu makna yang
abstrak dalam bentuk sesuatu yang konkret/nyata yang elok dan indah.
Contohnya seperti ungkapan الْعِلْمُ نُوْرٌ (ilmu itu cahaya). Dalam hal ini
menyamakan antara ilmu yang bersifat abstrak dengan cahaya yang konkret, yang
bisa diindera oleh penglihatan. Tidak harus selalu ada asal cerita atau
majaz murakkabnya.
Menurut Ibnu Qayyim (dalam Manna
Kholil, 1992: 400): Amtsal adalah menyerupakan sesuatu dengan
sesuatu yang lain dalam hukum, mendekatkan yang logis kepada yang indrawi atau
salah satu dari dua indra dengan yang lain karena adanya kemiripan.
Jadi, Amtsal itu adalah menonjolkan
makna dalam bentuk perkataan yang menarik, padat dan mempunyai pengaruh
mendalam terhadap jiwa.
2.2 Rukun Amtsal
Apakah kalian tahu siapa yang
pertama kali menyusun ilmu Amtsalul Quran? Benar, yang yang pertama kali
menyusun ilmu amtsal ialah Syaikh Abdur Rahman Muhammad bin Husain
An-naisaburi. Kemudian disusul oleh Imam Abdul Hasan bin Muhammad Al-Mawardi,
Ibnu Qayyim dan Jalaludin As-Suyuti. Ahli balaghah mensyaratkan bahwa tamsil
itu harus memenuhi beberapa ketentuan yaitu: bentuk kalimatnya ringkas, isi
maknanya mengena dengan tepat, perumpaannya baik dan sampiran atau kinayahnya
harus indah.
Sebagian ulama mengatakan
amtsal memiliki empat unsur, yaitu:
- (وجه الشبه) Wajhu Syabah/
segi perumpamaan.
- (اداة التشبيه) Adatu Tasybih/
alat yang digunakan untuk tasybih. Yaitu kaf, mitsil, kaanna dan semua
lafadz yang menunjukkan makna perseruan
- (مشبه) Musyabbah/
yang diseumpamakan.
- (مشبه به) Musyabbah
bih/ Sesuatu yang dijadikan perumpamaan
Sebagai contoh firman Allah SWT:
مثل الذين ينفقون أموالهم فى سبيل الله كمثل حبّة أنبتت سبع
سنابل فى كل سنبلة مائة حبّة , والله يضعف لمن يشاء, والله سميع عليم
Artinya: “Perumpamaan (nafkah yang
dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah
serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir
seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki.
Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 26)
Penjelasannya, Wajhu Syabah pada
ayat di atas adalah “pertumbuhan yang berlipat-lipat”. Ada satu tasybihnya
adalah kata ‘matsal’. Musyabbahnya adalah infaq atau shadaqah di jalan Allah.
Sedangkan musyabbah bihnya adalah benih.
2.3 Macam-macam Amtsalul Quran
Amtsal dalam Al-Quran ada tiga
macam, yaitu:
- Amtsal Musharrahah
Yaitu amtsal yang tegas dan
jelas menggunakan kata-kata perumpamaan. Di dalamnya ada lafadz matsal atau
yang menunjuk kepada tasybih.
Contohnya firman Allah tentang
orang-orang munafik: (QS. Al-Baqarah : 17-20)
“Perumpamaan mereka adalah seperti
orang yang menyalakan api. Maka setelah api itu menerangi sekelilingnya, Allah
hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka dan membiarkan mereka dalam kegelapan,
tidak dapat melihat. Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan
kembali (ke jalan yang benar) atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan
lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat. Mereka menyumbat
telinganya dengan anak jarinya karena (mendengar suara) petir, sebab takut akan
mati. Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir. Hampir-hampir kilat itu
menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka
berjalan di bawah sinar itu dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti.
Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan
mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.”
Dalam ayat-ayat di atas Allah
membuat dua perumpamaan bagi orang munafik:
- Matsal yang berkenaan dengan api
“… adalah seperti orang yang
menyalakan api…”
Allah Swt menyebut orang munafik
bagaikan orang yang menyalakan api untuk penerangan dan manfaat. Mengingat
mereka memperoleh manfaat materi dengan sebab masuk Islam. Namun di sisi lain,
Islam tidak memberikan pengaruh cahayanya kepada hati mereka. Kenapa? karena
Allah Swt menghilangkan cahaya yang ada dalam api itu. “Allah hilangkan cahaya
(yang menyinari) mereka…”
- Matsal yang berkenaan dengan air
“…atau seperti (orang-orang yang
ditimpa) hujan lebat dari langit…”
Allah Swt menyerupakan orang munafik
dengan keadaan orang yang ditimpa hujan lebat yang disertai gelap gulita,
gemuruh dan kilat. Sehingga rusaklah segenap kekuatan orang itu dan ia
meletakkan jari jemari untuk menyumbat telinga serta memejamkan mata karena
takut petir menimpanya. Ini mengingat bahwa Al-Qur’an dengan segala peringatan,
perintah, larangan dan khitabnya bagi orang munafik tak ubahnya seperti petir
yang turun sambar-menyambar.
2. Amtsal Kaminah
Yaitu amtsal yang tersembunyi.
Maksudnya, lafadz tamsil (pemisalan) nya tidak ditegaskan. Tetapi menunjuk
kepada makna-makna yang indah, menarik dan mempunyai pengaruh tersendiri bila
dipindahkan kepada yang serupa dengannya. Contohnya sebagai berikut:
- Ayat-ayat yang senada dengan perkataan: خير الامور البسط (Sebaik-baik
urusan adalah pertengahannya) yaitu:
A. Firman-Nya mengenai shalat:
Katakanlah: “Serulah Allah atau
serulah Ar-Rahman dengan nama yang mana saja kamu seru. Dia mempunyai Al
asmaaul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu
dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah
di antara kedua itu” (QS. Al-Isra’ : 110)
B. Firman Allah mengenai sapi
betina:
Mereka menjawab: “Mohonkanlah kepada
Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami, sapi betina apakah itu?
Musa menjawab: “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu
adalah sapi betina yang tidak tua dan tidak muda, pertengahan antara itu.
Maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu” (QS. Al-Baqarah: 68)
- Ayat yang senada dengan perkataan ليس الخبر كالمعاينة (Kabar itu tidak
sama dengan menyaksikan sendiri). Misalnya firman Allah Swt tentang
Ibrahim:
“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim
berkata: “Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan
orang-orang mati. Allah berfirman: “Belum yakinkah kamu?” Ibrahim menjawab:
“Aku telah meyakinkannya akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan
imanku) Allah berfirman: “(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung lalu
cincanglah semuanya olehmu. (Allah berfirman): “Lalu letakkan diatas tiap-tiap
satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka,
niscaya mereka datang kepadamu dengan segera.” dan ketahuilah bahwa Allah Maha
Perkasa lagi Maha Bijaksana (QS. Al-Baqarah: 260)
- Ayat yang senada dengan perkataan كما تدين تدان (Sebagaimana kamu
telah menghutangkan maka kamu akan dibayar). Misalnya:
“(Pahala dari Allah) itu bukanlah
menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak (pula) menurut angan-angan ahli
Kitab. Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi
pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak
(pula) penolong baginya selain dari Allah” (QS. An-Nisa : 123)
- Ayat yang senada dengan perkataan لايلدغ المؤمن من جحرمرتين (Orang mukmin
tidak akan disengat dua kali dari lubang yang sama). Misalnya seperti pada
firman Allah Swt mengenai lisan ya’kub:
Berkata Ya’qub: “Bagaimana aku akan
mempercayakannya (Bunyamin) kepadamu, kecuali seperti aku telah mempercayakan
saudaranya (Yusuf) kepada kamu dahulu?” Maka Allah adalah sebaik-baik
penjaga dan Dia adalah Maha Penyanyang di antara Para Penyanyang” (QS.
Yusuf : 64)
3. Amtsal Mursalah
Yaitu amtsal yang terlepas.
Maksudnya, kalimat-kalimat bebas yang tidak menggunakan lafadz tasybih secara
jelas. Tetapi kalimat-kalimat itu berlaku sebagai matsal. Contohnya:
- ”Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik
bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 216)
- “Dan rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain
orang yang merencanakannya sendiri” (QS. Fathir : 43).
- “Betapa banyak golongan yang sedikit dapat mengalahkan
golongan yang banyak dengan izin Allah” (QS. Al-baqarah : 249).
- “Kamu kira mereka itu bersatusedang hati mereka
terpecah belah” (QS. Al-Hasyr : 14).
Namun, para ulama berbeda pendapat
mengenai ayat-ayat yang mereka namakan amtsal mursalah ini apa atau bagaimana
hukum menggunakannya sebagai matsal.
Sebagian ahli ilmu memandang hal
demikian telah keluar dari adab Al-Quran. Ar-Razy berkata ketika menafsirkan
ayat, لكم دينكم وليدين “Untukmu agamamu
dan untukku agamaku.” (QS. Al-Kafirun [109] : 6)
Sebagian orang menjadikan ayat ini
sebagai matsal (untuk membela, membenarkan perbuatannya ketika meninggalkan
agama/murtad, padahal hal demikian tidak dibenarkan. Sebab Allah menurunkan
Al-Quran bukan untuk dijadikan matsal, tetapi untuk direnungkan dan kemudian
diamalkan isi kandungannya.
2.4 Faedah/Manfaat Amtsalul Quran
Ada beberapa faedah/manfaat dari
Amtsalul Quran. Di antaranya yaitu:
- Menonjolkan sesuatu yang hanya dapat dijangkau dengan
akal menjadi bentuk nyata yang dapat dirasakan dan dipahami oleh indra
manusia.
- Menyingkapkan hakikat dari sesuatu yang tidak nampak
menjadi seakan-akan nampak. Contoh:
“Orang-orang yang makan (mengambil)
riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan
syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu
adalah disebabkan mereka berkata: Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba
padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orang-orang
yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya lalu terus berhenti (dari
mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang
larangan) dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil
riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka, mereka kekal di
dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 27)
- Mengumpulkan makna yang menarik dan indah dalam
ungkapan yang padat, seperti dalam amtsal kaminah dan amtsal mursalah.
- Memotivasi orang untuk mengikuti perbuatan baik seperti
apa yang digambarkan dalam amtsal. Misalnya Allah Swt membuat matsal bagi
keadaan orang yang menafkahkan harta di jalan Allah Swt. Hal tersebut akan
memberikan kebaikan yang banyak.
“Perumpamaan (nafkah yang
dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah
serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir
seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki.
Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui. (QS. Al-Baqarah :
261)
- Menghindarkan diri dari perbuatan negatif
Misalnya firman Allah tentang
larangan mengunjing:
“… dan janganlah
menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging
saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya…” (QS.
Al-Hujurat : 12)
- Amtsal lebih berpengaruh pada jiwa, lebih efektif dalam
memberikan nasihat, lebih kuat dalam memberikan peringatan dan lebih dapat
memuaskan hati. Dalam Al-Qur’an Allah swt banyak menyebut amtsal untuk
peringatan dan agar kita dapat mengambil
- Untuk memuji orang yang diberi mats Seperti pada
firman-Nya tentang para sahabat:“… Demikianlah sifat-sifat mereka dalam
Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang
mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu
menjadi besarlah Dia dan tegak lurus di atas pokoknya, tanaman itu
menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan
hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin)…” (QS.
Al-Fath : 29).
Begitula para sahabat Nabi, pada
mulanya mereka hanya golongan minoritas, kemudian tumbuh berkembang hingga
keadaannya semakin kuat dan mengagumkan hati karena ketaqwaan dan semangat
mereka memperjuangkan agama Islam.
- Untuk menggambarkan (dengan matsal tersebut) sesuatu
yang mempunyai sifat yang dipandang buruk oleh orang banyak. Misalnya
matsal tentang keadaan orang yang dikaruniai Kitabullah tetapi ia tersesat
hingga tidak mengamalkannya. Firman-Nya:
“Dan bacakanlah kepada mereka berita
orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi
Al Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu dia
diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk
orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami
tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia
dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah. Maka perumpamaannya seperti anjing
jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia
mengulurkan lidahnya (juga). Demikian Itulah perumpamaan orang-orang yang
mendustakan ayat-ayat kami. Maka Ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah
itu agar mereka berfikir (QS. Al-A’raf : 175-176).
9. Untuk menjadi hujjah (argumen)
atas kebenaran. Seperti dalam firman Allah dalam Surat An-Nahl ayat 75:
“Allah membuat perumpamaan dengan
seorang hamba sahaya yang dimiliki yang tidak dapat berbuat (bertindak)
terhadap sesuatu pun dan seseorang yang Kami beri rezeki yang baik dari
kami, lalu dia menafkahkan sebahagian dari rezeki itu secara sembunyi dan
secara terang-terangan. Adakah mereka sama?”
Nah, itulah beberapa faedah dari
ilmu Amtsalul Quran.
2.5 Tujuan Amtsalul Quran
Allah menggunakan banyak perumpamaan
dalam Al-Quran. Perumpamaan-perumpamaan itu dimaksudkan agar manusia
memperhatikan, memahami, mengambil pelajaran, berpikir dan selalu mengingat.
Firman-Nya:
ولقد ضربنا للناس فى هذاالقرأن من كل مثل لعلهم يتذكرون
“Sesungguhnya telah Kami buatkan
bagi manusia dalam Al-Quran ini setiap macam perumpamaan supaya mereka dapat
pelajaran. (QS. Az-Zumar: 27)
لَوْ أَنْزَلْنَا هذاالقرأن على جبل لرأيته, خاشعا متصدّعا من
خشية الله ˆ وتلك الأمثال نضربها للناس لعلهم
يتفكرون
Artinya: ”kalau sekiranya Kami
turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung pasti kamu akan melihatnya tunduk
terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan
perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka
berfikir.” (QS. Al-Hasyr [59] : 21)
Rasulullah saw bersabda dalam hadits
riwayat Abu Hurairah:
إنَّ الْقُرْأَنَ نَزَلَ عَلَى خَمْسَةِ أَوْجُهٍ حَلَالٍ وَ
حَرَامٍ وَ مُحْكَمٍ وَ مُتَشَابِهٍ وَ أَمْثَالٍ فَاعْلَمُوْا بِالْحَلَالِ
وَاجْتَنِبُوْا الْحَرَامَ وَاتَّبِعُوْا الْمُحْكَمَ وَأَمِنُوْا
بِالْمُتَشَابِهِ وَاعْتَبِرُوْا بِالْأَمْثَالِ
“Sesungguhnya Al-Quran turun
dengan menggunakan lima sisi: halal, haram, muhkam, mutasyabih dan amtsal.
Kerjakanlah kehalalannya, tinggalkanlah keharamannya, ikutilah muhkamnya,
imanilah mutasyabihnya dan
ambillah pelajaran dari amtsalnya.
Sayangnya para pembaca sekalian,
perumpamaan yang ada di dalam Al-Quran tidak selalu membuat manusia langsung
mengerti, melainkan tetap ada yang mengingkarinya. Karena memang tidaklah mudah
untuk memahami suatu perumpamaan. Makanya, kita perlu ilmu untuk memahaminya.
Dan orang yang berilmulah yang bisa memahaminya. Firman-Nya:
وتلك الأمثال نضربها للناس,
وما يعقلها الا العلمون
Artinya: ”Dan
perumpamaan-perumpamaan itu kami buat untuk manusia dan tidak ada yang
memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.” (QS. Al-Ankabut [29] :
43)
Dari dalil Al-Quran dan hadits di
atas maka jelas bahwa tujuan Amtsal Al-Quran adalah sebagai teladan
dan bahan renungan sehingga manusia terbimbing menuju jalan yang benar demi
meraih kebahagiaan hidup dunia dan akhirat.
Syeikh Izzuddin berkata:
Sesungguhnya Allah itu membuat perumpamaan-perumpamaan di dalam Al-Quran hanya
untuk mengingatkan dan memberikan nasihat. Adapun cakupannya yang menunjukkan
bertingkat-tingkatnya pahala atau menyebabkan hilangnya pahala suatu amal atau
menunjukkan pujian atau celaan atau semisalnya maka semua itu menunjukkan
kepada hukum-hukum.
Wallahu a’lam
Komentar
Posting Komentar